MutiaraKata

Biografi Eka Darmaputera

The Oen Hien yang lebih dikenal dengan nama Eka Darmaputera lahir pada tanggal 16 November 1942 di Mertoyudan, Magelang, Jawa tengah. Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hidup pas-pasan. Ayahnya membuka toko kecil-kecilan untuk membesarkan Eka Darmaputera dan adiknya. Karena sulitnya kondisi ekonomi mereka saat itu, terkadang mereka hanya makan singkong selama berminggu-minggu.

Dia mengenyam pendidikan di SD Masehi (1953), SMP BOPKRI (1957) dan SMA Negeri (1960) di Magelang. Setelah tamat dari SMA, dia rindu masuk militer di AMN. Akan tetapi, karena persoalan ekonomi, akhirnya dia menerima ajakan seorang teman mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ) yang dapat memberinya beasiswa. Semasa kuliah, dia tinggal di asrama yang terletak di Jalan Proklamasi. Tidak jarang dia kehabisan uang karena kiriman orang tua memang terbatas. Kadangkala saat kehabisan uang kenakalannya kambuh. Bersama teman-teman, dia pernah mencuri barang dalam gudang asrama untuk dijual.

Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp 1.500,00 sebulan. Setelah lulus dari STT Jakarta, dia menjadi pendeta di GKI Jawa Barat, Jakarta Timur. Karena bakat kepemimpinan dan pemikiran-pemikirannya, dia diangkat menjadi Ketua Sinode gerejanya pada usia yang masih sangat muda. Dia terjun aktif dalam Dewan Gereja Indonesia (DGI), yang sekarang dikenal dengan nama PGI. Karena keaktifannya di DGI dan gereja, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.

Dia dikirim untuk mengambil gelar doktor di Boston College di Boston dan Seminari Teologi Andover Newton di Newton Center, kedua-duanya terletak di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat. Enam tahun dia tinggal di Amerika bersama istri dan anak tunggalnya, Arya. Dia berhasil membawa pulang gelar doktor (Ph.D) dengan disertasi berjudul “Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society — An Ethical and Cultural Analysis”. Dalam disertasinya ini, Eka berargumentasi bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi yang sangat tepat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, karena ideologi ini bersifat inklusif. Pemikiran ini berbeda dengan penafsiran Pancasila yang muncul pada masa pemerintahan Orde Baru, khususnya pada tahun-tahun terakhirnya, yang justru mengharamkan perbedaan pendapat dan kemajemukan budaya Indonesia.

Pemikiran-pemikiran Eka Darmaputera tidak luput dari perhatian pendidikan teologi di dunia, sehingga pada Desember 1999, Seminari Teologi Princeton di New Jersey, Amerika Serikat, menganugerahkan kepadanya Kuyper Prize for Excellence in Reformed Theology and Public Life.

Sejak awal kariernya sebagai seorang pendeta dan teolog, Eka telah aktif sebagai penganjur gerakan ekumenis antara pihak Protestan dan Katolik, dan antara pihak Kristen dengan agama-agama lainnya. Eka bersama-sama dengan Abdurrahman Wahid, Gedong Bagus Oka, dan kawan-kawan menjadi tokoh di balik pembentukan Dian/Interfidei, sebuah organisasi yang aktif bergerak dalam dialog antar iman dan berkedudukan di Kaliurang, Sleman.

Eka giat menulis sehingga karya-karya dan pikirannya seringkali muncul dalam berbagai surat kabar nasional Indonesia. Rubrik “Sabda”, artikel tetapnya yang dimuat setiap hari di Sinar Harapan, merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang sangat diminati pembacanya dan telah dibuat dalam bentuk buku. Dia juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya, baik di dalam maupun di luar negeri. Berbagai tulisan dan makalahnya disajikan dalam bahasa yang lugas dan tegas.

Eka juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan mengajar sebagai dosen di STT Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Eka adalah salah satu dosen dari Southeast Asia Graduate School of Theology di Manila, Filipina.

Pada 1999 Eka merasa perlu berkiprah pula dalam ajang politik. Dia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan. Akan tetapi, dia tidak sempat berjuang lewat kursi parlemen.

Eka telah lama mengidap penyakit lever yang kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker hati. Penyakitnya ini menggerogotinya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pada 29 Juni 2005 ia menghembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Mitra Internasional, Jakarta.

Sumber: pelitaku.sabda.org

Advertisements

Biografi Andar Ismail

bio_andarismail_satuharapan
Foto: satuharapan.com

Pdt DR Andar Ismail, S.Th (Siem Hong An) memulai pelayanannya dengan berstatus tua-tua khusus di Jemaat (GKI) Kelinci sejak 26 Januari 1964.

Tanggal 25 Juni 1965 ditahbiskan sebagai pendeta jemaat. Namun jemaat harus merelakan Pendeta Andar meninggalkan mereka selama dua tahun (1973 – 1975), sebab ia beralih tugas melayani di Bina Warga Cipayung atas permintaan Sinode GKI Jabar. Setelah itu ia kembali bertugas di Jemaat Kelinci.

Sejak 1 September 1988 ia menjadi pendeta utusan GKI Jabar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, sampai sekarang dan juga bekerja sebagai dekan Program Pascasarjana disini.

Ia menjadi seorang teolog yang terkenal karena buku-buku Seri Selamat dimana pada setiap karyanya terdapat 33 bab yang ditulis dengan berbagai genre. Mengapa memilih angka 33. “Angka 33 menjadi begitu penting bagi saya, karena mengingatkan hal terpenting dalam hidup, yaitu bukan panjangnya umur kita, melainkan kualitas hidup kita. Maka, pergunakan setiap tahun dengan sebaik-baiknya supaya berbuah,” ucapnya penuh motivasi dalam acara ‘Bertemu dengan Penulis Seri Selamat, Andar Ismail’ di BPK Gunung Mulia, Kwitang, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.

Sejumlah tulisannya juga diterjemahkan oleh gereja di mancanegara, misalnya Jepang, Taiwan, Amerika serikat, Belanda bahkan sampai di Norwegia. Seperti Ecumenical Review, Presbyterian Survey, Audenshaw Documents, Japan Christian Quaterly, Horizons Presbyterian Women, Laity Exchange, Presbyterian Outlook. (Sumber: Goodread dan sumber lainnya)

Biografi Dietrich Bonhoeffer

Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta gereja protestan Lutheran dan teolog yang aktif dalam perlawanan Jerman terhadap berbagai kebijakan Hitler dan Nazi.

Akibat perlawanannya terhadap rezim Nazi, Bonhoeffer ditangkap dan dieksekusi di kamp konsentrasi Flossian, di akhir-akhir bulan masa perang. Ia dikenang sebagai sebuah simbol penting dari perlawanan terhadap Hitler, dan pandangannya terhadap kekristenan semakin berpengaruh.

Bonhoeffer dilahirkan di Breslau, Jerman, pada tahun 1906. Keluarganya bukanlah keluarga yang religius, tetapi memiliki warisan yang kuat di bidang musik dan seni. Sejak masih sangat muda, Bonhoeffer telah menunjukkan bakat yang mengagumkan dalam bidang musik, dan musik menjadi hal yang penting di sepanjang kehidupannya. Keluarganya cukup terkejut ketika pada usia 14 tahun, ia menyatakan keinginannya untuk mendapat pelatihan dan menjadi seorang pendeta.

Pada tahun 1927, ia lulus dari Universitas Berlin. Ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang teologi untuk tesisnya yang sangat berpengaruh, Sanctorum Commnunio (Komuni Orang-orang Kudus). Setelah lulus, ia menghabiskan waktunya di Spanyol dan Amerika, yang memberinya wawasan yang lebih luas mengenai kehidupan dan menolongnya berpindah dari studi akademis kepada pemahaman Injil yang lebih praktis. Ia digerakkan oleh konsep keterlibatan gereja dalam ketidakadilan sosial dan perlindungan bagi mereka yang tertindas. Perjalanannya yang luas ke banyak tempat juga mendorong ketertarikannya yang lebih besar pada oikumene (persekutuan dengan berbagai denominasi gereja–red.).

Pada tahun 1931, ia kembali ke Berlin dan ditahbiskan menjadi pendeta pada usia 25 tahun. Awal tahun 30’an merupakan periode pergolakan besar di Jerman, dengan ketidakstabilan Weimar Jerman dan pengangguran massal pada masa Depresi Besar (Great Depression), yang mengarah pada pemilihan Hitler pada tahun 1933.

Sementara pemilihan Hitler diterima secara luas oleh penduduk Jerman, termasuk oleh bagian-bagian penting gereja, Bonhoeffer adalah penentang yang teguh terhadap filosofi Hitler. Dua hari setelah pemilihan Hitler sebagai Kanselir pada Januari 1930, Bonhoeffer melakukan siaran radio yang mengkritik Hitler, khususnya pada bahaya kultus pemberhalaan fuhrer (kata dalam bahasa Jerman yang berarti pemimpin–red.). Siaran radionya kemudian dihentikan saat masih mengudara.

Pada bulan April 1933, Bonhoeffer menunjukkan perlawanannya terhadap penganiayaan kepada orang-orang Yahudi, dan berpendapat bahwa gereja memiliki sebuah tanggung jawab untuk bertindak melawan kebijakan semacam ini. Bonhoeffer berupaya mengorganisasi Gereja Protestan agar dengan tegas menolak ideologi Nazi yang menyusup ke dalam gereja. Hal ini melahirkan sebuah gereja yang memisahkan diri — Gereja yang Menjawab, Bonhoeffer membantu pembentukan gereja ini bersama dengan Martin Niemoller. Gereja yang Menjawab berusaha bertindak sebagai oposisi terhadap Nazi, yang didukung oleh gerakan Orang-orang Kristen Jerman.

Namun, dalam kenyataannya, sangat sulit untuk menyepakati prakarsa yang berani dalam menentang Nazifikasi terhadap masyarakat dan gereja. Bonhoeffer merasa kecewa dengan kelemahan gereja dan pihak oposisi. Pada musim gugur tahun 1933, ia setuju untuk menjabat suatu jabatan selama dua tahun di sebuah gereja Protestan berbahasa Jerman di London.

Setelah dua tahun berada di London, Bonhoeffer kembali ke Berlin. Ia merasakan panggilan untuk kembali ke negeri asalnya dan bersama-sama berjuang meskipun prospeknya suram. Tak lama setelah kembali ke Berlin, salah satu pemimpin Gereja yang Menjawab ditangkap dan pemimpin satunya melarikan diri ke Swiss. Otorisasi Bonhoeffer untuk mengajar dicabut pada tahun 1936 setelah dinyatakan sebagai seorang pasifis (orang yang percaya bahwa perang dan kekerasan tidak dapat dibenarkan–red.) dan musuh negara.

Seiring dengan pengawasan Nazi yang semakin diperketat, pada tahun 1937, seminari Gereja yang Menjawab ditutup oleh Himmler. Selama dua tahun berikutnya, Bonhoeffer melakukan perjalanan di sepanjang Jerman Timur, mengadakan seminari-seminari rahasia untuk mahasiswa-mahasiswa yang bersimpati padanya.

Selama periode ini, Bonhoeffer menulis panjang lebar dengan teologi sebagai subjek utamanya. Salah satunya adalah “The Cost of Discipleship” (Harga Sebuah Pemuridan), sebuah studi tentang Khotbah di Bukit dan alasan-alasan untuk memiliki disiplin dan praktik rohani yang lebih besar, demi meraih “anugerah yang mahal”.

“Anugerah yang murah adalah anugerah yang kita berikan pada diri kita sendiri. Anugerah yang murah adalah pemberitaan pengampunan yang tidak mensyaratkan pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, Komuni tanpa pengakuan …. Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus, yang hidup dan menjelma menjadi manusia.” (Dietrich Bonhoeffer, “The Cost of Discipleship”)

Khawatir akan dipaksa mengambil sumpah setia kepada Hitler atau ditangkap, Bonhoeffer meninggalkan Jerman dan menuju ke Amerika Serikat pada bulan Juni 1939. Kurang dari dua tahun kemudian, ia kembali ke Jerman karena merasa bersalah telah mencari kenyamanan perlindungan, dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang dikhotbahkannya.

“Aku menyimpulkan bahwa aku telah membuat kesalahan dengan datang ke Amerika. Orang-orang Kristen di Jerman harus menghadapi alternatif mengerikan, yaitu bersedia menerima kekalahan negara mereka supaya peradaban Kristen dapat bertahan, atau bersedia menerima kemenangan negara mereka dan dengan demikian menghancurkan peradaban. Aku tahu alternatif mana yang harus harus kupilih, tetapi aku tidak bisa memilihnya dari suatu kenyamanan.”

Dalam kepulangannya ke Jerman, Bonhoeffer tidak diberi hak untuk berbicara di depan umum atau menerbitkan suatu artikel. Akan tetapi, ia berencana bergabung dengan Abwehr, badan intelijen militer Jerman. Sebelum kunjungannya ke Amerika Serikat, Bonhoeffer sudah melakukan kontak dengan beberapa perwira militer yang menentang Hitler. Di dalam Abwehrlah, perlawanan terkuat terhadap Hitler terjadi. Bonhoeffer menyadari adanya berbagai rencana pembunuhan terhadap Hitler. Bonhoeffer mulai mempertanyakan pasifismenya (perjuangan dengan cara damai, red.) selama masa-masa terkelam dalam Perang Dunia Kedua karena ia melihat perlunya perlawanan keras terhadap rezim seperti Hitler.

Ketika Visser’t Hooft, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia, bertanya kepadanya, “Apa yang Anda doakan hari-hari ini?” Bonhoeffer menjawab, “Jika Anda ingin tahu yang sebenarnya, aku berdoa untuk kekalahan bangsaku.”

Dalam perlindungan Abwehr, Bonhoeffer bertindak sebagai pembawa pesan untuk gerakan perlawanan Jerman dalam skala kecil. Ia melakukan kontak dengan “rekan-rekan” pemerintahan Inggris — meskipun mata-mata dari perlawanan Jerman diabaikan sebagai sekutu yang mengusahakan kebijakan dibutuhkannya “penyerahan tanpa syarat”.

Di dalam Abwehr, usaha-usaha dilakukan untuk membantu beberapa orang Yahudi Jerman melarikan diri ke negara yang netral, yaitu Swiss. Keterlibatan Bonhoeffer dalam kegiatan inilah yang membuat ia ditahan pada bulan April 1943. Saat Gestapo (polisi rahasia Nazi, red.) berupaya mengambil alih tanggung jawab terhadap Abwehr, mereka menyibak keterlibatan Bonhoeffer dalam berbagai rencana pelarian. Selama satu setengah tahun, Bonhoeffer dipenjarakan dalam penjara militer Tegel. Di situ, ia melanjutkan tulisannya, seperti “Ethics”. Dibantu oleh beberapa pengawal yang bersimpati padanya, tulisannya diselundupkan keluar. Setelah rencana pengeboman gagal pada tanggal 20 Juli 1944, Bonhoeffer dipindahkan ke penjara Gestapo yang memiliki tingkat keamanan tinggi sebelum dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald, dan akhirnya ke kamp konsentrasi Flossenburg.

Bahkan, selama penderitaannya di kamp konsentrasi, Bonhoeffer tetap mempertahankan kerohanian mendalam yang menjadi bukti imannya bagi tahanan lainnya. Bonhoeffer terus melayani rekan-rekan sesama tahanan. Payne Best, sesama narapidana dan petugas Angkatan Darat Inggris, menulis pengamatan ini tentang Bonhoeffer:

“Bonhoeffer seorang yang berbeda. Ia cukup tenang dan tampak biasa, tampak sempurna karena dapat bersikap santai …. Jiwanya benar-benar bersinar dalam gelap keputusasaan penjara kami. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah saya temui, yang dalam dirinya Tuhan tampak nyata dan pernah dekat dengannya.”

Pada bulan April 1945, Bonhoeffer diajukan ke pengadilan militer yang berlangsung dengan cepat, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sama seperti para pembelot lainnya, ia digantung dengan kawat, untuk memperlama proses kematiannya. Ia digantung bersama dengan pembelot lainnya, seperti Admiral Wilhelm Canaris dan Hans Oster.

Hanya beberapa saat sebelum eksekusinya, ia meminta seorang sesama narapidana untuk menyampaikan pesan kepada Uskup George Bell dari Chichester “Inilah akhirnya. Tetapi, bagiku, ini adalah awal kehidupan”.

Dokter di kamp konsentrasi yang menyaksikan proses eksekusi Bonhoeffer, pada akhirnya menulis:

“Saya melihat Pendeta Bonhoeffer … berlutut di lantai untuk berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Saya sangat tersentuh oleh cara pria terkasih ini berdoa, begitu saleh dan begitu yakin bahwa Allah mendengar doanya. Di tempat eksekusi, ia kembali mengucapkan doa yang singkat dan kemudian naik beberapa langkah menuju tiang gantungan, dengan berani dan tenang. Kematiannya terjadi hanya dalam beberapa detik. Selama hampir 50 tahun saya bekerja sebagai dokter, sulit menemukan seorang pria yang mati dengan begitu tunduk pada kehendak Allah.”

Teologi Bonhoeffer

Karena sifatnya yang terpisah-pisah, teologinya terbuka terhadap perdebatan. Akan tetapi, tema terpenting dari teologinya adalah:

“Tanggung jawab dari tindakan sosial untuk mewujudkan Injil yang ideal di tengah-tengah kehidupan. Ia juga memberikan keutamaan pada sifat utama Yesus Kristus, dan tanggung jawab orang Kristen untuk meniru kehidupan dan ajaran-ajaran-Nya. Secara khusus, ia berusaha mengajarkan pentingnya berjuang demi kesempurnaan rohani dan pengampunan dosa.”

Prinsip perlawanan Bonhoeffer terhadap rezim Hitler merupakan sumber inspirasi bagi tokoh-tokoh perubahan lainnya, seperti Martin Luther King dan Uskup Desmond Tutu. Bonhoeffer juga memiliki banyak kesamaan ide dengan Mahatman Gandhi (Pada tahun 1935, ia menolak sebuah kesempatan untuk belajar di ashram Mahatma Gandhi).

Sumber: Sabda

Biografi Jurgen Moltmann

bio_jurgen-moltmannJurgen Moltmann dilahirkan di Hamburg Jerman pada tanggal 8 April 1926 dan dibesarkan dalam lingkungan yang sangat sekuler. Pada umur 16 tahun Moltmann mengidolakan Albert Einstein dan berharap untuk belajar matematika di Universitas.

Teologi belum memainkan apapun dalam hidupnya. Moltmann menempuh ujian masuk untuk melanjutkan pendidikannya, namun sebaliknya ia pergi berperang sebagai seorang tenaga pembantu dalam angkatan udara Jerman. Bahan-bahan Bacaan yang dibawanya ke dalam penderitaan perang adalah Puisi-puisi karya Goethe dan karya-karta Nietzsche.

Pada tahun 1944 ia sungguh-sungguh terkena wajib militer dan menjadi tentara di militer Jerman. Pada tahun 1945 ia menyerah kepada tentara Inggris dan dari tahun 1945 sampai 1948 ia ditawan sebagai tawanan perang dan dipindahkan dari satu kamp ke kamp yang lainnya. Ia mula-mula ia ditawan di Belgia. Di kamp di Belgia, para tawanan tidak mempunyai banyak kegiatan akibatnya pikiran-pikiran mereka mulai tersiksa.

Moltman dan rekan-rekan setahanan merasa tersiksa oleh kenangan dan pikiran-pikiran yang menghawatirkan. Moltmann mengaku telah kehilangan semua pengharapan dan kepercayaan terhadap budaya Jerman karena kamp-kamp konsentrasi tempat orang Yahudi dan yang lain-lainnya yang ditahan oleh Nazi telah dibunuh. Moltmann mengaku bahwa ia menyesal sehingga ia sering merasa bahwa lebih baik ia mati bersama-sama dengan rekan-rekannya dari pada tetap hidup untuk menghadapi apa yang telah dilakukan bangsanya.

Moltmann bertemu dengan sekelompok orang Kristen di kamp itu dan seorang pendeta tentara Amerika memberikan kepadanya sebuah Kitab Perjanjian Baru dan Mazmur. Perlahan-lahan ia mulai mengidentifikasi dan mulai mengandalkan iman Kristen. Pada akhirnya Moltmann mengaku “saya tidak menemukan Kristus, Dialah yang menemukan saya.”

Setelah penahanan di Belgia, ia dipindahkan di sebuah kamp di skotlandia dan di sana ia bekerja dengan orang-orang Jerman lainnya untuk membangun kembali daerah-daerah yang rusak karena pengeboman. Keramahtamahan penduduk setempat terhadap para tawanan menimbulkan kesan yang mendalam pada dirinya.

Pada Juli 1946, ia dipindahkan untuk terakhir kalinya ke sebuah penjara Inggris yang terletak dekat dengan Nottingham yaitu kamp Northern. Kamp itu dioperasikan oleh YMCA (Youth Mission Christian Assuciation), dan di sana Moltmann bertemu banyak mahasiswa teologi. Di kamp Northern ia menemukan buku Reinhold Niebuhr, Nature and Destiny of Man I, itu adalah buku teologi pertama yang pernah dibacanya dan Moltmann mengaku bahwa buku itu menimbulkan dampak yang hebat dalam hidupnya.

Pada tahun 1948 Moltmann kembali ke rumahnya dan menemukan kotanya Hamburg dan seluruh negerinya dalam keadaan hancur karena pengeboman tentara sekutu semasa perang dunia ke II. Moltmann menempuh pendidikan teologinya di Universitas Goettingen, sebuah lembaga yang para profesornya merupakan pengikut-pengikut Karl Barth.

Pelayanan

Oleh karena itu Allah tidak menilai pekerjaan kita sesuai dengan martabat atau kemuliaan yang kelihatan. Bukan pula dari dimensi keberhasilan materiil, yaitu hasilnya. Ia tidak melihat apakah kita telah berhasil melakukannya atau tidak, apakah kita telah menghasilkan sesuatu yang besar atau kecil. Ia hanya melihat, di dalam Roh yang mana kita telah melaksanakan pekerjaan itu”. O Hallesby, “Dibawah Naungan Sayap-Nya”,

Hikmat

bio_derek tiddbal120_160“……mengapakah pengalaman hidup kita sangat mengecewakan? Pengkhotbah menyimpulkan bahwa hal itu karena Allah telah “memberikan kekekalan dalam hati manusia,” …..kita dibuat sesuai dengan gambaran Allah. Ia kekal
adanya, dan gambaran tersebut tertanam kokoh di dalam kita. Jadi kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan kecuali dalam hubungan kita dengan-Nya. Segala jalan lain menuju kepuasan pada akhirnya akan meninggalkan kita gelisah dan tidak puas”. ~ Derek Tidball, dalam “That Is Life” (Ind, Menjaring Angin), p. 56


“Kebijaksanaan tidak ada kaitannya dengan kepandaian akademis. Orang yang gagal mendapat gelar sarjana, mungkin sangat bijaksana. Kita mengetahui kenyataan bahwa banyak sarjana yang secara total kurang bijaksana. Kebijaksanaan (hikmat) adalah hidup dengan hormat di hadapan Allah. Hikmat adalah takut akan Allah di atas segala-galanya. Hikmat adalah untuk memahami dunia dan kehidupan Anda sendiri dari segi pandangan Allah…..Dampaknya berarti hidup dalam cara yang telah ditunjukkan Allah pada kita dalam Alkitab. ….Kalau Anda memiliki hikmat maka tidak akan langsung terjatuh kalau menghadapi bencana dalam kehidupan ini”. ~Derek Tidball, “That’s Life (Ind, Menjaring Angin), p 140, 141


“Orang bijaksana tahu apa yang benar dan apa yang salah. Dan kalau menghadapi cobaan, dia tahu bahwa dia tidak harus menyerah pada cobaan itu. Alkitab penuh de ngan nas yang menjamin bahwa kita bisa menolak pencobaan secara berhasil (al. Mzm 119:9,11; 1 Kor 10:13). Dan banyak telah membuktikannya berhasil. Jadi orang bijaksana berpaling pada Allah untuk mendapatkan kekuatan dari Dia. Orang bodoh menuruti cobaan dan kemudian sesudah itu menderita konsekuensi-konsekuensinya”. ~Derek Tidball, “That’s Life (Ind, Menjaring Angin), p 142


“Hikmat akan menghindarkan kita untuk tidak terbenam oleh teka-teki kehidupan ini. Sebagian orang begitu tercekam dalam teka-teki kehidupan ini sehingga mereka tidak pernah hidup. Sebagian begitu diintimidasi masalah-masalah sehingga mereka ketakutan”. ~Derek Tiddbal, “That’s Life (Ind, Menjaring Angin), pp 142, 143


“Dalam kehidupan ini Allah sudah memberikan kita energi, kerja, kemampuan mental, pengetahuan dan hikmat atau kebijaksanaan. Mari kita pergunakan itu semua! Jika kita tidak mempergunakannya di sini, sudah pasti kita tidak akan mendapat kesempatan untuk mempergunakannya setelah ini. Keyakinan kita tidak perlu terletak pada diri kita tetapi pada Allah yang memberikannya pada kita. Kita bisa takin, karena kita mempercayai Dia”. ~ Derek Tidball, “That’s Life (Ind), p 187


“Sebagaimana kata Amsal, ‘Hati yang gembira adalah obat yang manjur’ (17:22), ….orang percaya bisa gembira karena dia membawa setiap beban dan kekuatiran kepada Allah, tahu bahwa sebagai Pencipta yang penuh kasih Dia akan menjadikan segala sesuatu di bawah kendali-Nya”. ~ Derek Tidball, “That’s Life (Ind, Menjaring Angin), p 225

Kekhawatiran

bio_wiersbe_warrenKEKHAWATIRAN. “Kemarin Allah telah menolong kita, sebab kalau tidak, kita tidak berada di sini.
Seperti Nabi Samuel, kita dapat mendirikan mezbah peringatan tentang kesetiaan Allah. Samuel menamakan batu peringatan itu EBENHAEZAR — sampai di sini Tuhan telah menolong kita.
Dan seperti Abraham, kita dapat memandang ke depan dan mengetahui bahwa Allah akan terus menolong kita. Abraham menamakan batu peringatannya JEHOVAH JIREH — Tuhan akan memerhatikan kita.
Jadi, Anda dan saya tidak perlu menyusahkan diri tentang waktu yang lalu dan cemas tentang hari yang akan datang, sebab Allah adalah Penolong kita yang tak pernah gagal”. – Warren W. Wiersbe, dalam “Kekuatan untuk Menghadapi Masa Sukar”

Berkat

bio_oswaldchambers“Kita harus menjadi tempat yang melaluinya Yesus dapat mengalirkan “aliran-aliran air hidup” yang menjadi berkat bagi setiap orang. Namun sebagian dari kita seperti Laut Mati, selalu menerima tetapi tidak pernah memberi, sebab hubungan kita tidak benar dengan Tuhan Yesus. Sepasti kita menerima berkat dari Dia, Dia juga akan mencurahkan berkat melalui kita”.~ Oswald Chambers

Disiplin

“Orang Kristen modern tidak kurang ´relevansinya´ dengan dunia ini.
Kekurangan mereka adalah kehidupan yang disiplin dan pikiran yang
kritis untuk melawan pencobaan-pencobaan yang telah mengubahnya
menjadi seperti yang orang-orang dunia pikirkan dan lakukan”. – Simon Chan


“Disiplin-disiplin yang Allah inginkan untuk membawa kita masuk dalam hadirat kemuliaan-Nya dan mengubah kita untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, bagi sebagian besar kita, hanya tinggal rutinitas saja — tidak lagi dipikirkan, tidak lagi diusahakan, tidak memberikan buah kecuali hanya sekedar untuk memenuhi tanggung jawab.
Jika demikian, maka kita sama sekali tidak mungkin memperlengkapi diri untuk bisa hidup bagi Kerajaan-Nya di dunia ini”. ~ T.M. Moore, dalam Disciplines of Grace


 

Alkitab

bio_John_stott_75_103

“Alkitab dapat dipahami hanya secara rohani. Karena itu kita perlu datang kepada Alkitab dengan rendah hati, hormat, dan penuh harap. Kita mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yang dinyatakan di dalam Alkitab masih terkunci dan termeterai sampai Roh kudus membukakannya bagi kita dan membukakan pikiran kita untuk kebenaran tersebut”. – John R Stott, Alkitab: Buku Untuk Masakini

Kehidupan Kristiani

bio_khi_rick-warren 101_122“Tanpa Allah, kehidupan tidak memiliki tujuan, dan tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna, kehidupan tidak memiliki arti atau harapan. ….Harapan sama pentingnya seperti udara dan air bagi kehidupan Anda….. Tragedi terbesar bukanlah kematian, melainkan kehidupan tanpa tujuan”. -Rick Warren, dalam The Purpose Drive Life


“Kita adalah produk dari masa lalu kita sendiri, tetapi kita tidak perlu menjadi tawanan (rasa bersalah karena) masa lalu. Tujuan Allah (untuk Anda) tidak dibatasi oleh masa lalu Anda. Allah mampu melakukan hal-hal ajaib dalam sisa hidup Anda. Allah ahli dalam memberi orang-orang suatu awal yang baru. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN”. -Rick Warren, dalam The Purpose Drive Life


“Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu. ….Banyak orang digerakkan oleh kebencian dan kemarahan. Bukannya melepaskan penderitaan melalui pengampunan, mereka malah mengulanginya berkali-kali dalam pikiran mereka.
Kebencian selalu lebih melukai Anda ketimbang orang yang Anda benci. Sementara orang yang menyakiti hati Anda mungkin telah melupakan perbuatannya tersebut dan melanjutkan hidup, Anda terus dipenuhi penderitaan Anda, dengan mengabadikan masa lalu. ….Anda hanya melukai diri dengan kepahitan Anda. Alkitab berkata, “Hanyalah orang yang bodoh saja yang mati sebab sakit hatinya.” – Rick Warren, The Purpose Drive Life


“Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu. …..Banyak orang digerakkan oleh rasa takut. Ketakutan adalah penjara yang dibangun oleh diri sendiri yang akan menghalangi Anda untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi Anda. Anda harus bergerak melawannya dengan senjata iman dan kasih. Alkitab mengatakan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” – Rick Warren, The Purpose Drive Life


“Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu. …..Banyak orang digerakkan oleh materialisme.
….hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan bukanlah materi! Kekayaan bisa hilang dalam sekejap – disebabkan berbagai faktor yang tidak bisa dikendalikan.
Rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam apa yang tidak pernah bisa diambil dari Anda, yaitu hubungan Anda dengan Allah”.- Rick Warren, The Purpose Drive Life


 

Pelayanan

bio_william barclay“Dan kalau kita bekerja bagi Allah, maka prestise merupakan hal yang tidak penting, karena kita tahu bahwa bahkan yang kita pikirkan paling baik di hadapan-Nya sama sekali tidak mempunyai arti”. ~William Barclay, dalam “Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Lukas”


“Kalau kita bekerja hanya untuk mencapai sesuatu bagi kepentingan diri kita sendiri, maka apa yang diperbuat itu tidak berharga di hadapan Allah”. – William Barclay, dalam “Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Lukas”