MutiaraKata

Biografi Eka Darmaputera

The Oen Hien yang lebih dikenal dengan nama Eka Darmaputera lahir pada tanggal 16 November 1942 di Mertoyudan, Magelang, Jawa tengah. Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hidup pas-pasan. Ayahnya membuka toko kecil-kecilan untuk membesarkan Eka Darmaputera dan adiknya. Karena sulitnya kondisi ekonomi mereka saat itu, terkadang mereka hanya makan singkong selama berminggu-minggu.

Dia mengenyam pendidikan di SD Masehi (1953), SMP BOPKRI (1957) dan SMA Negeri (1960) di Magelang. Setelah tamat dari SMA, dia rindu masuk militer di AMN. Akan tetapi, karena persoalan ekonomi, akhirnya dia menerima ajakan seorang teman mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ) yang dapat memberinya beasiswa. Semasa kuliah, dia tinggal di asrama yang terletak di Jalan Proklamasi. Tidak jarang dia kehabisan uang karena kiriman orang tua memang terbatas. Kadangkala saat kehabisan uang kenakalannya kambuh. Bersama teman-teman, dia pernah mencuri barang dalam gudang asrama untuk dijual.

Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp 1.500,00 sebulan. Setelah lulus dari STT Jakarta, dia menjadi pendeta di GKI Jawa Barat, Jakarta Timur. Karena bakat kepemimpinan dan pemikiran-pemikirannya, dia diangkat menjadi Ketua Sinode gerejanya pada usia yang masih sangat muda. Dia terjun aktif dalam Dewan Gereja Indonesia (DGI), yang sekarang dikenal dengan nama PGI. Karena keaktifannya di DGI dan gereja, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.

Dia dikirim untuk mengambil gelar doktor di Boston College di Boston dan Seminari Teologi Andover Newton di Newton Center, kedua-duanya terletak di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat. Enam tahun dia tinggal di Amerika bersama istri dan anak tunggalnya, Arya. Dia berhasil membawa pulang gelar doktor (Ph.D) dengan disertasi berjudul “Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society — An Ethical and Cultural Analysis”. Dalam disertasinya ini, Eka berargumentasi bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi yang sangat tepat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, karena ideologi ini bersifat inklusif. Pemikiran ini berbeda dengan penafsiran Pancasila yang muncul pada masa pemerintahan Orde Baru, khususnya pada tahun-tahun terakhirnya, yang justru mengharamkan perbedaan pendapat dan kemajemukan budaya Indonesia.

Pemikiran-pemikiran Eka Darmaputera tidak luput dari perhatian pendidikan teologi di dunia, sehingga pada Desember 1999, Seminari Teologi Princeton di New Jersey, Amerika Serikat, menganugerahkan kepadanya Kuyper Prize for Excellence in Reformed Theology and Public Life.

Sejak awal kariernya sebagai seorang pendeta dan teolog, Eka telah aktif sebagai penganjur gerakan ekumenis antara pihak Protestan dan Katolik, dan antara pihak Kristen dengan agama-agama lainnya. Eka bersama-sama dengan Abdurrahman Wahid, Gedong Bagus Oka, dan kawan-kawan menjadi tokoh di balik pembentukan Dian/Interfidei, sebuah organisasi yang aktif bergerak dalam dialog antar iman dan berkedudukan di Kaliurang, Sleman.

Eka giat menulis sehingga karya-karya dan pikirannya seringkali muncul dalam berbagai surat kabar nasional Indonesia. Rubrik “Sabda”, artikel tetapnya yang dimuat setiap hari di Sinar Harapan, merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang sangat diminati pembacanya dan telah dibuat dalam bentuk buku. Dia juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya, baik di dalam maupun di luar negeri. Berbagai tulisan dan makalahnya disajikan dalam bahasa yang lugas dan tegas.

Eka juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan mengajar sebagai dosen di STT Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Eka adalah salah satu dosen dari Southeast Asia Graduate School of Theology di Manila, Filipina.

Pada 1999 Eka merasa perlu berkiprah pula dalam ajang politik. Dia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan. Akan tetapi, dia tidak sempat berjuang lewat kursi parlemen.

Eka telah lama mengidap penyakit lever yang kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker hati. Penyakitnya ini menggerogotinya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pada 29 Juni 2005 ia menghembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Mitra Internasional, Jakarta.

Sumber: pelitaku.sabda.org

Biografi Andar Ismail

bio_andarismail_satuharapan
Foto: satuharapan.com

Pdt DR Andar Ismail, S.Th (Siem Hong An) memulai pelayanannya dengan berstatus tua-tua khusus di Jemaat (GKI) Kelinci sejak 26 Januari 1964.

Tanggal 25 Juni 1965 ditahbiskan sebagai pendeta jemaat. Namun jemaat harus merelakan Pendeta Andar meninggalkan mereka selama dua tahun (1973 – 1975), sebab ia beralih tugas melayani di Bina Warga Cipayung atas permintaan Sinode GKI Jabar. Setelah itu ia kembali bertugas di Jemaat Kelinci.

Sejak 1 September 1988 ia menjadi pendeta utusan GKI Jabar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, sampai sekarang dan juga bekerja sebagai dekan Program Pascasarjana disini.

Ia menjadi seorang teolog yang terkenal karena buku-buku Seri Selamat dimana pada setiap karyanya terdapat 33 bab yang ditulis dengan berbagai genre. Mengapa memilih angka 33. “Angka 33 menjadi begitu penting bagi saya, karena mengingatkan hal terpenting dalam hidup, yaitu bukan panjangnya umur kita, melainkan kualitas hidup kita. Maka, pergunakan setiap tahun dengan sebaik-baiknya supaya berbuah,” ucapnya penuh motivasi dalam acara ‘Bertemu dengan Penulis Seri Selamat, Andar Ismail’ di BPK Gunung Mulia, Kwitang, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.

Sejumlah tulisannya juga diterjemahkan oleh gereja di mancanegara, misalnya Jepang, Taiwan, Amerika serikat, Belanda bahkan sampai di Norwegia. Seperti Ecumenical Review, Presbyterian Survey, Audenshaw Documents, Japan Christian Quaterly, Horizons Presbyterian Women, Laity Exchange, Presbyterian Outlook. (Sumber: Goodread dan sumber lainnya)

Biografi Dietrich Bonhoeffer

Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta gereja protestan Lutheran dan teolog yang aktif dalam perlawanan Jerman terhadap berbagai kebijakan Hitler dan Nazi.

Akibat perlawanannya terhadap rezim Nazi, Bonhoeffer ditangkap dan dieksekusi di kamp konsentrasi Flossian, di akhir-akhir bulan masa perang. Ia dikenang sebagai sebuah simbol penting dari perlawanan terhadap Hitler, dan pandangannya terhadap kekristenan semakin berpengaruh.

Bonhoeffer dilahirkan di Breslau, Jerman, pada tahun 1906. Keluarganya bukanlah keluarga yang religius, tetapi memiliki warisan yang kuat di bidang musik dan seni. Sejak masih sangat muda, Bonhoeffer telah menunjukkan bakat yang mengagumkan dalam bidang musik, dan musik menjadi hal yang penting di sepanjang kehidupannya. Keluarganya cukup terkejut ketika pada usia 14 tahun, ia menyatakan keinginannya untuk mendapat pelatihan dan menjadi seorang pendeta.

Pada tahun 1927, ia lulus dari Universitas Berlin. Ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang teologi untuk tesisnya yang sangat berpengaruh, Sanctorum Commnunio (Komuni Orang-orang Kudus). Setelah lulus, ia menghabiskan waktunya di Spanyol dan Amerika, yang memberinya wawasan yang lebih luas mengenai kehidupan dan menolongnya berpindah dari studi akademis kepada pemahaman Injil yang lebih praktis. Ia digerakkan oleh konsep keterlibatan gereja dalam ketidakadilan sosial dan perlindungan bagi mereka yang tertindas. Perjalanannya yang luas ke banyak tempat juga mendorong ketertarikannya yang lebih besar pada oikumene (persekutuan dengan berbagai denominasi gereja–red.).

Pada tahun 1931, ia kembali ke Berlin dan ditahbiskan menjadi pendeta pada usia 25 tahun. Awal tahun 30’an merupakan periode pergolakan besar di Jerman, dengan ketidakstabilan Weimar Jerman dan pengangguran massal pada masa Depresi Besar (Great Depression), yang mengarah pada pemilihan Hitler pada tahun 1933.

Sementara pemilihan Hitler diterima secara luas oleh penduduk Jerman, termasuk oleh bagian-bagian penting gereja, Bonhoeffer adalah penentang yang teguh terhadap filosofi Hitler. Dua hari setelah pemilihan Hitler sebagai Kanselir pada Januari 1930, Bonhoeffer melakukan siaran radio yang mengkritik Hitler, khususnya pada bahaya kultus pemberhalaan fuhrer (kata dalam bahasa Jerman yang berarti pemimpin–red.). Siaran radionya kemudian dihentikan saat masih mengudara.

Pada bulan April 1933, Bonhoeffer menunjukkan perlawanannya terhadap penganiayaan kepada orang-orang Yahudi, dan berpendapat bahwa gereja memiliki sebuah tanggung jawab untuk bertindak melawan kebijakan semacam ini. Bonhoeffer berupaya mengorganisasi Gereja Protestan agar dengan tegas menolak ideologi Nazi yang menyusup ke dalam gereja. Hal ini melahirkan sebuah gereja yang memisahkan diri — Gereja yang Menjawab, Bonhoeffer membantu pembentukan gereja ini bersama dengan Martin Niemoller. Gereja yang Menjawab berusaha bertindak sebagai oposisi terhadap Nazi, yang didukung oleh gerakan Orang-orang Kristen Jerman.

Namun, dalam kenyataannya, sangat sulit untuk menyepakati prakarsa yang berani dalam menentang Nazifikasi terhadap masyarakat dan gereja. Bonhoeffer merasa kecewa dengan kelemahan gereja dan pihak oposisi. Pada musim gugur tahun 1933, ia setuju untuk menjabat suatu jabatan selama dua tahun di sebuah gereja Protestan berbahasa Jerman di London.

Setelah dua tahun berada di London, Bonhoeffer kembali ke Berlin. Ia merasakan panggilan untuk kembali ke negeri asalnya dan bersama-sama berjuang meskipun prospeknya suram. Tak lama setelah kembali ke Berlin, salah satu pemimpin Gereja yang Menjawab ditangkap dan pemimpin satunya melarikan diri ke Swiss. Otorisasi Bonhoeffer untuk mengajar dicabut pada tahun 1936 setelah dinyatakan sebagai seorang pasifis (orang yang percaya bahwa perang dan kekerasan tidak dapat dibenarkan–red.) dan musuh negara.

Seiring dengan pengawasan Nazi yang semakin diperketat, pada tahun 1937, seminari Gereja yang Menjawab ditutup oleh Himmler. Selama dua tahun berikutnya, Bonhoeffer melakukan perjalanan di sepanjang Jerman Timur, mengadakan seminari-seminari rahasia untuk mahasiswa-mahasiswa yang bersimpati padanya.

Selama periode ini, Bonhoeffer menulis panjang lebar dengan teologi sebagai subjek utamanya. Salah satunya adalah “The Cost of Discipleship” (Harga Sebuah Pemuridan), sebuah studi tentang Khotbah di Bukit dan alasan-alasan untuk memiliki disiplin dan praktik rohani yang lebih besar, demi meraih “anugerah yang mahal”.

“Anugerah yang murah adalah anugerah yang kita berikan pada diri kita sendiri. Anugerah yang murah adalah pemberitaan pengampunan yang tidak mensyaratkan pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, Komuni tanpa pengakuan …. Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus, yang hidup dan menjelma menjadi manusia.” (Dietrich Bonhoeffer, “The Cost of Discipleship”)

Khawatir akan dipaksa mengambil sumpah setia kepada Hitler atau ditangkap, Bonhoeffer meninggalkan Jerman dan menuju ke Amerika Serikat pada bulan Juni 1939. Kurang dari dua tahun kemudian, ia kembali ke Jerman karena merasa bersalah telah mencari kenyamanan perlindungan, dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang dikhotbahkannya.

“Aku menyimpulkan bahwa aku telah membuat kesalahan dengan datang ke Amerika. Orang-orang Kristen di Jerman harus menghadapi alternatif mengerikan, yaitu bersedia menerima kekalahan negara mereka supaya peradaban Kristen dapat bertahan, atau bersedia menerima kemenangan negara mereka dan dengan demikian menghancurkan peradaban. Aku tahu alternatif mana yang harus harus kupilih, tetapi aku tidak bisa memilihnya dari suatu kenyamanan.”

Dalam kepulangannya ke Jerman, Bonhoeffer tidak diberi hak untuk berbicara di depan umum atau menerbitkan suatu artikel. Akan tetapi, ia berencana bergabung dengan Abwehr, badan intelijen militer Jerman. Sebelum kunjungannya ke Amerika Serikat, Bonhoeffer sudah melakukan kontak dengan beberapa perwira militer yang menentang Hitler. Di dalam Abwehrlah, perlawanan terkuat terhadap Hitler terjadi. Bonhoeffer menyadari adanya berbagai rencana pembunuhan terhadap Hitler. Bonhoeffer mulai mempertanyakan pasifismenya (perjuangan dengan cara damai, red.) selama masa-masa terkelam dalam Perang Dunia Kedua karena ia melihat perlunya perlawanan keras terhadap rezim seperti Hitler.

Ketika Visser’t Hooft, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia, bertanya kepadanya, “Apa yang Anda doakan hari-hari ini?” Bonhoeffer menjawab, “Jika Anda ingin tahu yang sebenarnya, aku berdoa untuk kekalahan bangsaku.”

Dalam perlindungan Abwehr, Bonhoeffer bertindak sebagai pembawa pesan untuk gerakan perlawanan Jerman dalam skala kecil. Ia melakukan kontak dengan “rekan-rekan” pemerintahan Inggris — meskipun mata-mata dari perlawanan Jerman diabaikan sebagai sekutu yang mengusahakan kebijakan dibutuhkannya “penyerahan tanpa syarat”.

Di dalam Abwehr, usaha-usaha dilakukan untuk membantu beberapa orang Yahudi Jerman melarikan diri ke negara yang netral, yaitu Swiss. Keterlibatan Bonhoeffer dalam kegiatan inilah yang membuat ia ditahan pada bulan April 1943. Saat Gestapo (polisi rahasia Nazi, red.) berupaya mengambil alih tanggung jawab terhadap Abwehr, mereka menyibak keterlibatan Bonhoeffer dalam berbagai rencana pelarian. Selama satu setengah tahun, Bonhoeffer dipenjarakan dalam penjara militer Tegel. Di situ, ia melanjutkan tulisannya, seperti “Ethics”. Dibantu oleh beberapa pengawal yang bersimpati padanya, tulisannya diselundupkan keluar. Setelah rencana pengeboman gagal pada tanggal 20 Juli 1944, Bonhoeffer dipindahkan ke penjara Gestapo yang memiliki tingkat keamanan tinggi sebelum dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald, dan akhirnya ke kamp konsentrasi Flossenburg.

Bahkan, selama penderitaannya di kamp konsentrasi, Bonhoeffer tetap mempertahankan kerohanian mendalam yang menjadi bukti imannya bagi tahanan lainnya. Bonhoeffer terus melayani rekan-rekan sesama tahanan. Payne Best, sesama narapidana dan petugas Angkatan Darat Inggris, menulis pengamatan ini tentang Bonhoeffer:

“Bonhoeffer seorang yang berbeda. Ia cukup tenang dan tampak biasa, tampak sempurna karena dapat bersikap santai …. Jiwanya benar-benar bersinar dalam gelap keputusasaan penjara kami. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah saya temui, yang dalam dirinya Tuhan tampak nyata dan pernah dekat dengannya.”

Pada bulan April 1945, Bonhoeffer diajukan ke pengadilan militer yang berlangsung dengan cepat, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sama seperti para pembelot lainnya, ia digantung dengan kawat, untuk memperlama proses kematiannya. Ia digantung bersama dengan pembelot lainnya, seperti Admiral Wilhelm Canaris dan Hans Oster.

Hanya beberapa saat sebelum eksekusinya, ia meminta seorang sesama narapidana untuk menyampaikan pesan kepada Uskup George Bell dari Chichester “Inilah akhirnya. Tetapi, bagiku, ini adalah awal kehidupan”.

Dokter di kamp konsentrasi yang menyaksikan proses eksekusi Bonhoeffer, pada akhirnya menulis:

“Saya melihat Pendeta Bonhoeffer … berlutut di lantai untuk berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Saya sangat tersentuh oleh cara pria terkasih ini berdoa, begitu saleh dan begitu yakin bahwa Allah mendengar doanya. Di tempat eksekusi, ia kembali mengucapkan doa yang singkat dan kemudian naik beberapa langkah menuju tiang gantungan, dengan berani dan tenang. Kematiannya terjadi hanya dalam beberapa detik. Selama hampir 50 tahun saya bekerja sebagai dokter, sulit menemukan seorang pria yang mati dengan begitu tunduk pada kehendak Allah.”

Teologi Bonhoeffer

Karena sifatnya yang terpisah-pisah, teologinya terbuka terhadap perdebatan. Akan tetapi, tema terpenting dari teologinya adalah:

“Tanggung jawab dari tindakan sosial untuk mewujudkan Injil yang ideal di tengah-tengah kehidupan. Ia juga memberikan keutamaan pada sifat utama Yesus Kristus, dan tanggung jawab orang Kristen untuk meniru kehidupan dan ajaran-ajaran-Nya. Secara khusus, ia berusaha mengajarkan pentingnya berjuang demi kesempurnaan rohani dan pengampunan dosa.”

Prinsip perlawanan Bonhoeffer terhadap rezim Hitler merupakan sumber inspirasi bagi tokoh-tokoh perubahan lainnya, seperti Martin Luther King dan Uskup Desmond Tutu. Bonhoeffer juga memiliki banyak kesamaan ide dengan Mahatman Gandhi (Pada tahun 1935, ia menolak sebuah kesempatan untuk belajar di ashram Mahatma Gandhi).

Sumber: Sabda

Biografi Jurgen Moltmann

bio_jurgen-moltmannJurgen Moltmann dilahirkan di Hamburg Jerman pada tanggal 8 April 1926 dan dibesarkan dalam lingkungan yang sangat sekuler. Pada umur 16 tahun Moltmann mengidolakan Albert Einstein dan berharap untuk belajar matematika di Universitas.

Teologi belum memainkan apapun dalam hidupnya. Moltmann menempuh ujian masuk untuk melanjutkan pendidikannya, namun sebaliknya ia pergi berperang sebagai seorang tenaga pembantu dalam angkatan udara Jerman. Bahan-bahan Bacaan yang dibawanya ke dalam penderitaan perang adalah Puisi-puisi karya Goethe dan karya-karta Nietzsche.

Pada tahun 1944 ia sungguh-sungguh terkena wajib militer dan menjadi tentara di militer Jerman. Pada tahun 1945 ia menyerah kepada tentara Inggris dan dari tahun 1945 sampai 1948 ia ditawan sebagai tawanan perang dan dipindahkan dari satu kamp ke kamp yang lainnya. Ia mula-mula ia ditawan di Belgia. Di kamp di Belgia, para tawanan tidak mempunyai banyak kegiatan akibatnya pikiran-pikiran mereka mulai tersiksa.

Moltman dan rekan-rekan setahanan merasa tersiksa oleh kenangan dan pikiran-pikiran yang menghawatirkan. Moltmann mengaku telah kehilangan semua pengharapan dan kepercayaan terhadap budaya Jerman karena kamp-kamp konsentrasi tempat orang Yahudi dan yang lain-lainnya yang ditahan oleh Nazi telah dibunuh. Moltmann mengaku bahwa ia menyesal sehingga ia sering merasa bahwa lebih baik ia mati bersama-sama dengan rekan-rekannya dari pada tetap hidup untuk menghadapi apa yang telah dilakukan bangsanya.

Moltmann bertemu dengan sekelompok orang Kristen di kamp itu dan seorang pendeta tentara Amerika memberikan kepadanya sebuah Kitab Perjanjian Baru dan Mazmur. Perlahan-lahan ia mulai mengidentifikasi dan mulai mengandalkan iman Kristen. Pada akhirnya Moltmann mengaku “saya tidak menemukan Kristus, Dialah yang menemukan saya.”

Setelah penahanan di Belgia, ia dipindahkan di sebuah kamp di skotlandia dan di sana ia bekerja dengan orang-orang Jerman lainnya untuk membangun kembali daerah-daerah yang rusak karena pengeboman. Keramahtamahan penduduk setempat terhadap para tawanan menimbulkan kesan yang mendalam pada dirinya.

Pada Juli 1946, ia dipindahkan untuk terakhir kalinya ke sebuah penjara Inggris yang terletak dekat dengan Nottingham yaitu kamp Northern. Kamp itu dioperasikan oleh YMCA (Youth Mission Christian Assuciation), dan di sana Moltmann bertemu banyak mahasiswa teologi. Di kamp Northern ia menemukan buku Reinhold Niebuhr, Nature and Destiny of Man I, itu adalah buku teologi pertama yang pernah dibacanya dan Moltmann mengaku bahwa buku itu menimbulkan dampak yang hebat dalam hidupnya.

Pada tahun 1948 Moltmann kembali ke rumahnya dan menemukan kotanya Hamburg dan seluruh negerinya dalam keadaan hancur karena pengeboman tentara sekutu semasa perang dunia ke II. Moltmann menempuh pendidikan teologinya di Universitas Goettingen, sebuah lembaga yang para profesornya merupakan pengikut-pengikut Karl Barth.

Kesepian

bio_billy graham“Ada sedikit rahasia yang sudah kutemukan tentang cara mengalahkan kesepian. Pertama, aku tidak pernah merasa kesepian ketika aku berdoa sebab doa mempersekutukanku dengan sahabat yang melebihi sahabat biasa – Yesus Kristus. Dia berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, … tetapi … sahabat.” (Yoh 15:15). Aku pun tak pernah kesepian bila membaca Alkitab. Tiap hari kubaca pasal-pasalnya. Tak ada apa pun lainnya yang meluluhkan kesepian seperti waktu khusus merenungkan Firman Allah”. ~Billy Graham


“Manusia yang terpisah dari Allah akan merasa hidupnya sepi arti dan mengalami kesunyian yang mencekam. Cukup banyak orang memikul beban duka, kuatir, pedih, dan kecewa; tetapi kesepian terdalam dialami orang yang tenggelam dalam dosa.” ~Billy Graham


“Aku tidak pernah merasa kesepian ketika aku menyaksikan Kristus bersama pada orang lain. Ada suatu kesukaan besar ketika menceritakan Kristus pada orang lain. Semua kita dapat melakukan hal ini.” ~Billy Graham

 

Doa

“Hal ‘meminta’, ‘mencari’ dan ‘mengetuk’ dalam doa (Mat 7:7) bukanlah tanda mementingkan diri sendiri. Kita meminta karena kita adalah anak-anak Allah yang mempunyai kebutuhan. Kita mencari Dia karena Dia adalah segalanya yang kita perlukan. Kita mengetuk karena kita ingin masuk ke dalam hubungan yang akrab dengan Dia. Dan kita ingin berjalan dengan Dia hari lepas hari”. ~Sammy Tippit, “Jumpa Tuhan Dalam Ibadah”


“Jika kita mendapat pandangan dan pengertian yang benar tentang sifat-sifat Kristus, dengan sendirinya hati kita akan memuja dan mengagungkan Dia. Itu adalah reaksi yang seharusnya. Sementara kita memusatkan hati dan pikiran kepada Yesus, mengalirlah kasih kita yang mendalam kepada Kristus dari lubuk hati. Kita menyembah Yesus Kristus. Untuk tujuan inilah seharusnya semua doa penyembahan diarahkan”. ~Sammy Tippit, “Jumpa Tuhan Dalam Ibadah”


 

Kesombongan

“Dalam usaha melebihi orang lain, dan meyakinkan diri bahwa kita lebih baik daripada mereka, kita cenderung melebih-lebihkan kepentingan kita. Tidak ada hal lain di mana kita mengkhianati diri kita sedemikian absurd dan tragis seperti saat kita berusaha memperilah diri diri sendiri. Karena itu, keangkuhan merupakan dosa manusia yang terbesar, yang mendatangkan malapetaka atas ketiga relasi diri — dengan Allah, diri sendiri dan dengan pihak lain”. ~Knox Chamblin 1936-2012

Kehendak Tuhan

bio_stephen tong“Mungkinkah manusia mengenal kehendak Allah? …… Allah tidak akan menyatakan pimpinan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak berniat taat. Jikalau Saudara tidak berniat untuk taat kepada Tuhan …. Dia tidak akan memberitahukan kepada Saudara apa yang harus Saudara jalankan. Di dalam Allah, ada anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi tidak dijual murah”. ~Stephen Tong