Biografi Andar Ismail

bio_andarismail_satuharapan
Foto: satuharapan.com

Pdt DR Andar Ismail, S.Th (Siem Hong An) memulai pelayanannya dengan berstatus tua-tua khusus di Jemaat (GKI) Kelinci sejak 26 Januari 1964.

Tanggal 25 Juni 1965 ditahbiskan sebagai pendeta jemaat. Namun jemaat harus merelakan Pendeta Andar meninggalkan mereka selama dua tahun (1973 – 1975), sebab ia beralih tugas melayani di Bina Warga Cipayung atas permintaan Sinode GKI Jabar. Setelah itu ia kembali bertugas di Jemaat Kelinci.

Sejak 1 September 1988 ia menjadi pendeta utusan GKI Jabar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, sampai sekarang dan juga bekerja sebagai dekan Program Pascasarjana disini.

Ia menjadi seorang teolog yang terkenal karena buku-buku Seri Selamat dimana pada setiap karyanya terdapat 33 bab yang ditulis dengan berbagai genre. Mengapa memilih angka 33. “Angka 33 menjadi begitu penting bagi saya, karena mengingatkan hal terpenting dalam hidup, yaitu bukan panjangnya umur kita, melainkan kualitas hidup kita. Maka, pergunakan setiap tahun dengan sebaik-baiknya supaya berbuah,” ucapnya penuh motivasi dalam acara ‘Bertemu dengan Penulis Seri Selamat, Andar Ismail’ di BPK Gunung Mulia, Kwitang, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.

Sejumlah tulisannya juga diterjemahkan oleh gereja di mancanegara, misalnya Jepang, Taiwan, Amerika serikat, Belanda bahkan sampai di Norwegia. Seperti Ecumenical Review, Presbyterian Survey, Audenshaw Documents, Japan Christian Quaterly, Horizons Presbyterian Women, Laity Exchange, Presbyterian Outlook. (Sumber: Goodread dan sumber lainnya)

Advertisements

Pelayanan

bio_andar ismail“Alkitab tidak menggambarkan Yesus sebagai Tuhan yang berjaya atau berkuasa, melainkan sebagai Tuhan yang melayani dan menghamba. Yesus adalah diakonos (pelayan), bahkan doulos (budak).
Jiwa Kristus adalah melayani dan menghamba. Itulah juga jiwa kristiani para pengikut-Nya. Orang yang mau berjalan di belakang Yesus adalah orang yang rela melayani dan menghamba”. – DR Iskandar Ismail, dalam “Selamat Melayani”


 “Melayani bukan berarti sekadar bersibuk di sana-sini dan bukan pula sekadar memberi ini atau itu. Melayani adalah mengosongkan diri dan menempatkan kepentingan sendiri di bawah kepentingan Tuhan dan kepentingan orang lain. Ini sungguh bertolak belakang dengan jalan hidup yang lazim di mana orang justru mengutamakan kepentingan diri sendiri”. –  DR Iskandar Ismail, dalam “Selamat Melayani”

 

Hidup

bio_andar ismail“Arti hidup bukan diukur dengan berapa panjang usia kita, dan seberapa banyak harta yg dimiliki. Tetapi seberapa banyak kita memberi hidup kepada orang lain. Jadi hidup ini tidak semata-mata bertujuan untuk pribadi diri sendiri melainkan untuk berbagi dengan orang lain. Tentunya juga setiap orang dengan pencapaian-pencapaiannya masing-masing. Arti hidup manusia juga dapat direfleksikan melalui perenungan-perenungan. Itu yang membedakan antara hidup manusia dengan hewan”. – DR Andar Ismail dalam “Selamat Panjang Umur”


 

Doa

bio_andar ismail“Doa adalah menyadari diri sebagai bagian dari ciptaan yang merindukan Penciptanya.
Doa adalah kerinduan berbagi hal yang tak dapat dibagikan dengan orang lain.
Doa adalah penyerahan diri dalam pasrah yang sempurna dan menantikan jawaban dari pinta yang disampaikan”. – DR Andar Ismail, dalam “Selamat Pagi Tuhan”


 

Bekerja

bio_andar ismail“Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini cuma sekali. Sekali berarti, sesudah itu mati. Soalnya, apakah hidup kita sekarang ini sudah mempunyai arti dan sudah memberi arti?” – DR Andar Ismail


“Seringkali, manusia berubah menjadi serakah ketika memiliki lebih. Tetapi, ketika kita tidak memiliki apa-apa, sepertinya kita lebih mudah berpasrah pada Tuhan, lebih rendah hati dan lebih mudah berbagi dengan sesama. Ketika kesuksesan itu datang, kita mulai memegahkan diri, mulai mendengki dan menjadi pelit dalam berbagi. Kenapa? Yang pasti, tidak selalu kesuksesan datang dari Allah sehingga berbuah kebaikan. Jadi, bertekunlah dalam Tuhan dan waspadalah. Sebaliknya, situasi belum sukses bukan berarti Tuhan tidak memberkati kita. Berkat Tuhan datang dalam berbagai bentuk, bahkan ketika kita merasa terabaikan. Bukankah kita justru semakin rajin berseru dan menyapa Tuhan dalam kegalauan kita?” – DR Andar Ismail dalam “Selamat Bekerja”


Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Tetapi sesempit itukah tujuan kerja? Masakan hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?


Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut. Kita mempunyai martabat diri dan hati nurani. Diri itu tidak akan terwujud kalau kita cuma goyang-goyang kaki. Karena itu kita bekerja. Dengan bekerja, diri kita diaktualkan. Inilah aktualisasi diri, kata psikolog Abraham Maslow. Dengan bekerja, diri kita jadi berarti dan memberi arti.


Kita bekerja karena diajak untuk bekerja bersama-sama Tuhan. Kita adalah “kawan sekerja Allah” (1 Kor. 3: 9). Ketika kita bekerja, Tuhan bekerja di dekat kita.


 

Iman

 

bio_andar ismailDr. Andar Ismail adalah adalah pendeta GKI Samanhudi Jakarta sejak tahun 1963 dan kini menjadi dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta Dan juga bekerja sebagai dekan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Tulisannya pun sering diterjemahkan oleh gereja di mancanegara, misalnya Jepang, Taiwan, Amerika serikat, Belanda bahkan sampai di Norwegia. Seperti Ecumenical Review, Presbyterian Survey, Audenshaw Documents, Japan Christian Quaterly, Horizons Presbyterian Women, Laity Exchange, Presbyterian Outlook.


 

“Menjalani perputaran roda hidup dengan iman bukan berarti bahwa iman kita kuat. Orang beriman bukanlah orang yang tidak suka cemas, melainkan orang yang dalam kecemasannya bertumpu pada Kristus. Orang beriman bukanlah orang yang imannya besar, melainkan orang yang bertumpu pada rahmat Tuhan yang besar. Iman kita kecil dan lemah, tetapi itu tidak soal, sebab yang penting adalah bahwa rahmat Tuhan itu besar dan kuat”. – DR Andar Ismail, dalam “Selamat Bergumul: 33 Renungan tentang Iman”


“Iman adalah berpegang pada Kristus, dalam melangkah. Langkah demi langkah, pada waktu mujur atau malang, pada waktu sehat atau sakit, pada waktu cerah atau mendung, kita terus berpegang erat – pada Kristus, yang dapat diandalkan . – DR Andar Ismail


“Akan tetapi, dapatkah kita berpegang erat? Itulah soalnya. Seringkali tangan kita sendiri sudah lemah. Tangan kita tidak kuat lagi berpegang erat. Pegangan tangan kita mudah kendur lalu lepas. Tetapi untunglah, yang dibutuhkan pada saat-saat seperti itu bukanlah agar kita memegang Kristus, melainkan agar Kristus memegang kita. Karena itu, kekuatan seadanya sudah memadai. Keselamatan bukan bergantung pada kuat atau lemahnya cara kita memegang Kristus, melainkan pada cara Kristus memegangi tangan kita. Ia memegangi tangan kita dengan erat dan kuat”. – DR Andar Ismail


“Itulah iman! Begitu sederhana. Iman bukanlah kita memegang tangan Kristus, melainkan membiarkan Kristus memegangi kita. Iman adalah membuka diri pada Kristus agar Dia memegangi kita. Iman adalah berbisik “O Tuhan Yesus, pegang tanganku.” (Nyanyikanlah Kidung Baru 189) – DR Andar Ismail


“Kadang diartikan, bahwa kita bisa sembuh asalkan beriman. Berpuasa sambil berdoa, memberi persembahan, bernazar, dsb. Terkadang, iman dijadikan sebagai syarat kesembuhan…Lalu bagaimana jika ternyata masih belum sembuh juga? Mungkin kita jadi merasa iman kita masih kurang, masih kurang berdoa, kurang persembahan, kurang puasa, dsb. – masih kurang persyaratannya…Dengan menganggap bahwa iman kita bisa menyembuhkan, maka tanpa disadari kita menjadikan diri kita sebagai faktor penentu. Penentu kesembuhan bukan lagi kemurahan hati Tuhan, melainkan kesungguhan iman kita. yang menjadi penyembuh bukan lagi besarnya anugerah Tuhan, melainkan besarnya iman kita. –  DR Andar Ismail


“Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Matius 9:22). Ayat ini sebenarnya harus diartikan kepada ” Kristus yang kau imani telah menyelamatkan engkau”. Bukan iman kita, melainkan Kristus yang kita imani, itulah yang menyembuhkan”. – DR Andar Ismail

“Terkadang juga, manusia berpikir bila dengan berobat ke dokter adalah pertanda kurang iman dan kurang berdoa pada Tuhan. Padahal meskipun berobat dengan cara apapun, kita tetap bergantung pada kemurahan Tuhan”. – DR Andar Ismail


“Dalam hal percaya, hubungan selalu datang dari dua arah. Kita bisa salah paham. Kita mengira bahwa dalam hubungan percaya, kitalah yang berprakarsa dan bersibuk dalam berhubungan dengan Tuhan. Sebenarnya tidak. Dalam prakteknya, kita baru ingat Tuhan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Padahal Tuhan selalu mengingat kita” – DR Andar Ismail