Hidup Kristiani

“Ada waktu untuk tidur, ada waktu untuk bangun, ada waktu untuk berstirahat, ada waktu untuk bekerja; ada waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan, ada waktu untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan; ada waktu luang, ada waktu yang membuat segala sesuatu indah. Banyak orang tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sementara karena mereka tidak tahu-menahu tentang kenikmatan kudus yang datang datang Tuhan”.– Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


SUKACITA SORGAWI. “Alkitab memberikan gambaran tentang sukacita sorgawi yang dapat kita cicipi selama kita masih berada dalam dunia ini. Di antaranya: sukacita dalam hal datang beribadah kepada Tuhan, sukacita mengasihi Tuhan, menaati perintah-perintah-Nya secara sempurna, sukacita dalam melayani Tuhan, sukacita dalam persekutuan kasih dengan sesama orang percaya, sukacita karena kita mengenal dan melihat diri kita sebagaimana kita sendiri dikenal dan dikasihi oleh Tuhan” – Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


PENGUASAAN EMOSI.  “Kita perlu belajar untuk tidak menanggapi provokasi dengan kemarahan yang dikuasai oleh hawa nafsu. Segera membalas atau merespons sesuatu dengan kemarahan merupakan bentuk kegagalan penguasaan diri”.- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


 

“Emosi adalah salah satu bagian diri kita yang perlu kita kuasai. Seorang pemimpin yang baik mempunyai penguasaan emosi yang baik. Tentu kita adalah manusia yang juga mempunyai perasaan yang bisa tersinggung dan terluka. Kebal terhadap pengalaman terluka adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun bagaimana seseorang berespons dalam keterlukaan tersebut akan membentuk kematangan karaktemya”.- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


“Kemarahan yang tidak kudus tidak membawa kepada sesuatu yang baik, malah sebaliknyalah yang terjadi: kita menciptakan luka yang semakin dalam dan bukan  semakin terobati dengan melampiaskan kemarahan sebagat balasan. Menguasai emosi kemarahan membawa seseorang kepada kehidupan yang tahan uji”.- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


“Alkitab selalu mengatakan bahwa persoalan kita bukanlah kegagalan rasio sebagai fakultas yang tertinggi dalam memimpin fakultas yang lebih rendah seperti emosi dan kehendak. Manusia tidak dapat menguasai diri karena dosa. Dosa mengakibatkan diri yang seharusnya dapat menguasai ciptaan yang lebih rendah, menguasai diri, dan takluk kepada penguasaan Allah akhirnya sekarang menjadi dikuasai oleh ciptaan yang lebih rendah, gagal menguasai diri dan menolak untuk dikuasai oleh Allah. Hanya dengan memberikan diri kita dikuasai oleh Allah kita dapat mengu-asai diri kita dengan benar”.- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


“Tanpa penguasaan diri, tidak akan ada pelayanan yang maksimal dipakai Tuhan untuk memberkati orang lain. Tanpa Pribadi Kristus yang berdiam di dalam kita, tidak ada penguasaan diri yang dipakai demi menyalurkan kasih ilahi kepada sesama kita. Yang ada hanyalah penguasaan diri menurut standar kita sendiri yang dipergunakan untuk kepentingan diri sendiri juga”. -.- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


“Tanpa karya Roh Kudus, manusia tidak akan memiliki penguasaan diri ilahi, yang ada hanyalah penguasaan diri alamiah yang dapat dikembangkan dan anugerah umum yang tersedia dalam alam”. .- Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


“Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah”. Max 23:5
Kehidupan Kristen yang diberkati adalah kehidupan yang meluber keluar (overflow) karena kepenuhan Kristus. Hidup Kristen bukanlah suatu kehidupan yang diusahakan dengan susah payah, sampai akhirnya suatu saat orang tersebut akan “burned out”, putus asa, pesimis, dan depresi karena tidak mencapai target yang ditetapkan sendiri. Tidak demikian, melainkan satu kehidupan yang mengalirkan sukacita dan berkat Tuhan yang memancar memenuhi kehidupan orang lain”. Bill Kristanto, dalam “Ajarlah Kami Bergumul’


 

Advertisements

Kasih

“ …tahapan kasih yang lebih dalam, ketika kita bukan lagi mengasihi Allah karena kebaikan yang dilakukan-Nya atas kita, namun kita belajar untuk masuk ke dalam kasih kepada Allah karena sifat-sifat yang ada pada-Nya: kekudusan-Nya, kemuliaan-Nya, kebesaran-Nya, kebenaran-Nya, dan sebagai-nya. Kasih pada tahap ini memberi kita kekuatan untuk tetap mengasihi Tuhan saat kita sepertinya kurang mengalami kebaikan Allah secara langsung. Tahap ini juga membebaskan kita dari kasih yang hanya mau mengasihi Allah sejauh Allah masih memberkati saya.” – Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan


 

Rendah Hati

“Kebudayaan yang dipenuhi dengan semangat kompetisi sangat berperan besar dalam menghancurkan budaya rendah hati. Di situ orang bukan hanya sangat sadar akan dirinya sendiri, melainkan ia juga sangat sadar akan sesamanya yang tidak menjadi sesama manusia lagi melainkan musuh yang harus dikalahkan. …..Di sini kita perlu melihat dengan saksama bahwa isunya bukanlah melihat diri atau tidak melihat diri melainkan melihat diri dengan perspektif bagaimana. Orang yang terus-menerus melihat diri dengan semangat menjadikan dirinya sebagai yang paling penting, ya, bahkan menjadi pusat alam semesta, tidak mungkin mengerti apa artinya menjadi rendah hati.” – Billy Kristanto, dalam “Aku, Diriku, dan Kebajikan