Alkitab

bio_John_stott_75_103

“Alkitab dapat dipahami hanya secara rohani. Karena itu kita perlu datang kepada Alkitab dengan rendah hati, hormat, dan penuh harap. Kita mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yang dinyatakan di dalam Alkitab masih terkunci dan termeterai sampai Roh kudus membukakannya bagi kita dan membukakan pikiran kita untuk kebenaran tersebut”. – John R Stott, Alkitab: Buku Untuk Masakini

Advertisements

Doa

bio_john_stott90“Doa kristiani yg sejati selalu tenggelam dalam keasyikan yang mengutamakan Allah dan kemuliaan-Nya. Jadi merupakan kebalikan dari penonjolan diri orang munafik, yg memanfaatkan doa sebagai sarana bagi kemuliaan dirinya sendiri”. – John Stott, “Khotbah di Bukit”

“Kita dapat mengelabui mata ‘penonton manusiawi kita’ sehingga mereka yakin bahwa kita sungguh-sungguh dalam memberi, berdoa dan berpuasa, padahal itu hanya peranan kita saja. Tapi tidak di mata Allah! Kita mustahil dapat menipu Allah. Allah tak bisa ditipu! Sebab Allah melihat apa yang ada dalam lubuk hati kita. ltulah sebabnya mengapa melakukan sesuatu dengan tujuan supaya dilihat orang, tak dapat tidak akan merendahkan perbuatan itu sendiri, sedang melakukan sesuatu supaya dilihat Allah, tentu akan meninggikannya”. – John Stott, ‘Khotbah di Bukit’

 

Kehidupan Kristiani

bio_john_stott90“Seperti ditulis Calvin (tentang Matius 5:1) ‘Hanya dia yang menganggap dirinya tak berarti sama sekali di mata Tuhan, lalu semata-mata bergantung pada anugerah Tuhan, hanya orang seperti itulah yang miskin di hadapan Tuhan!’ Kepada orang seperti itu, dan hanya kepada orang seperti itulah diberikan Kerajaan Allah”. – John Stott, “Khotbah di Bukit”


“Doa kristiani yg sejati selalu tenggelam dalam keasyikan yang mengutamakan Allah dan kemuliaan-Nya. Jadi merupakan kebalikan dari penonjolan diri orang munafik, yg memanfaatkan doa sebagai sarana bagi kemuliaan dirinya sendiri”. – John Stott, “Khotbah di Bukit
“Jika kita memiliki penglihatan fisik, maka apa yang sedang kita lakukan dapat kita lihat, dan juga ke mana kita sedang berjalan. Demikian juga halnya jika kita memiliki penglihatan spiritual, jika kompas spiritual kita sudah kita setel dengan tepat, maka hidup kita pun akan menjadi penuh makna dan tujuan. Tapi jika penglihatan kita telah dikaburkan oleh jin-jin materialisme, dan sistem nilai kita sudah salah kaprah, maka seluruh kehidupan kita pun akan diselimuti oleh kegelapan, dan kita tak dapat melihat lagi ke mana kita sedang melangkah”. – John Stott, ‘Khotbah di Bukit’


“Apa yang dimaksud dengan kedewasaaan rohani? Para rasul menyebutnya kedewasaan “di dalam Kristus,” yakni, memiliki sebuah hubungan yang dewasa dengan Kristus. Ia lebih seperti ranting yang ada “di dalam” pokok anggur ….Itulah makna dari bersatu dengan Kristus. Dengan demikian, “di dalam Kristus” berarti terhubung dengan-Nya secara personal, secara vital, dan secara organis. Dalam pengertian ini, menjadi dewasa berarti memiliki sebuah hubungan yang dewasa dengan Kristus dalam penyembahan, ketaatan, iman, kasih, dan ketaatan kita kepada-Nya”. John Stott dalam “the Radical Discipleship”